Rabu, 08 Oktober 2014

tugas individu softskill etika bisnis (bag 1)

  
UTILITARIANISME
Utilitarianisme pertama kali dikembangkan oleh Jeremy Bentham (1748-1832). Persoalan yang dihadapi oleh Bentham dan orang-orang pada zamannya adalah bagaimana menilai baik buruknya suatu kebijaksanaan sosial politik, ekonomi, dan legal secara moral. Singkatnya, bagaimana menilai sebuah kebijaksanaan publik, yaitu kebijaksanaan yang punya dampak bagi kepentingan banyak orang, secara moral.
Konsep utilitarianisme adalah sebuah prinsip yang sering digunakan sebagai dasar pemikiran bagi perilaku yang harus dibenarkan. Secara singkat, pendekatan ini  pada pemikiran etis mengatakan bahwa kebenaran dan kesalahan dari setiap tindakan seluruhnya tergantung pada hasilnya yang diperoleh dari perbuatan tersebut. Adapun kriteria etika utilitarianisme adalah sebagai berikut :
1. Manfaat, bahwa kebijakan / tindakan tertentu dapat mendatangkan manfaat serta kegunaan tertentu.
2.  Manfaat terbesar, sama halnya seperti diatas, mendatangkan manfaat yang lebih besar dalam situasi yang lebih besar. Tujuannya meminimisasikan kerugian sekecil mungkin.
3. Pertanyaan mengenai manfaat, manfaatnya untuk siapa?saya, dia, mereka, atau kita. Kriteria yang sekaligus menjadi pegangan objektif etika utilitarianisme adalah manfaat terbesar bagi sebanyak mungkin orang. Dengan kata lain, kebijakan atau tindakan yang baik dan tepat dari segi etis menurut utilitarianisme adalah kebijakan / tindakan yang membawa manfaat terbesar bagi orang banyak / tindakan yang memberikan kerugian bagi sekecil orang / kelompok tertentu.
Atas dasar ketiga kriteria tersebut etika utilitarianisme memiliki tiga pegangan, yakni tindakan yang baik dan tepat secara moral, tindakan yang bermanfaat besar, serta manfaat yang paling besar untuk paling banyak orang. Adapun nilai-nilai positif dari etika utilitarianisme, diantaranya :
1. Rasionlitasnya adalah prinsip moral yang diajukan oleh etika utilitarinisme tidak didasarakan pada aturan-aturan kaku yang mungkin tidak kita pahami.
2. Universalitas adalah mengutamakan manfaat / akibat baik dari suatu tindakan bagi banyak orang yang melakukan tindakan itu. Dasar pemikirannya adalah bahwa kepentingan orang sama bobotnya. Artinya yang baik bagi saya, yang baik juga bagi orang lain.
Will Kymlicka, menegaskan bahwa etika utilitarinisme mempunyai dua daya tarik, yaitu pertama etika utilitarinisme sejalan dengan instuisi moral semua manusia bahwa kesejahterahan manusia adalah yang paling pokok bagi etika serta moralitas dan yang kedua etika utilitarinisme sejalan dengan instuisi kita bahwa semua kaidah moral dan tujuan tindakan manusia harus dipertimbangkan, dinilai dan diuji berdasarkan akibatnya bagi kesejahterahan manusia. Sebagai proses dan standar penilaiannya, etika utilitarianisme dibagi menjadi :
·        Etika utilitarianisme dipakai sebagai proses untuk mengambil sebuah keputusan, kebijaksanaan, ataupun untuk bertindak. Dengan kata lain, etika utilitarianisme dipakai sebagai prosedur untuk mengambil keputusan. Ia menjadi sebuah metode untuk bisa mengambil keputusan yang tepat tentang tindakan atau kebijaksanaan yang akan dilakukan.   
·        Etika utilitarianisme dipakai sebagai standar penilaian bagi tindakan / kebijaksanaan  yang telah dilakukan. Dalam hal ini, ketiga kriteria di atas lalu benar-benar dipakai sebagai kriteria untuk menilai apakah suatu tindakan / kebijaksanaan yang telah dilakukan memang baik / tidak. Yang paling pokok adalah menilai tindakan / kebijaksanaan yang telah terjadi berdasarkan akibat / konsekuensinya yaitu sejauh mana ia mendatangkan hasil terbaik bagi banyak orang. 
Dengan adanya etika utilitarianisme, keuntungan dan kerugian  yang dianalisis jangan semata-mata dipusatkan pada keuntungan dan kerugian bagi perusahaan,  kendati benar bahwa ini sasaran akhir. Yang juga perlu mendapat perhatian adalah keuntungan dan kerugian bagi banyak pihak lain yang terkait dan berkepentingan, baik kelompok primer maupun sekunder. Jadi, dalam analisis ini perlu juga diperhatikan bagaimana dan sejauh mana suatu kebijaksanaan dan kegiatan bisnis suatu perusahaan  membawa akibat yang menguntungkan dan merugikan bagi kreditor, konsumen, pemosok, penyalur, karyawan, masyarakat luas, dan seterusnya. Ini berarti etika utilitarianisme sangat sejalan dengan apa yang telah kita bahas sebagai pendekatan stakeholder.
Etika utilitarinisme sangat cocok dipakai dalam pembuatan perencanaan dan evaluasi bagi tindakan / kebijakan yang berkaitan dengan orang banyak. Dipakai secara sadar / tidak sadar dalam bidang ekonomi, sosial, politik yang menyangkut kepentinagan orang banyak. Kelemahan dari etika utilitarianisme, yaitu :
·    Manfaat, merupakan sebuah konsep yang begitu luas sehingga dalam praktiknya malah menimbulkan kesulitan yang tidak sedikit, karena manfaat manusia berbeda satu dengan yang lainnya.
·  Persoalan klasik, yang lebih filosofis adalah bahwa etika utilitarinisme tidak pernah menganggap serius suatu tindakan pada dirinya sendiri dan hanya memperhatikan nilai dari suatu tindakan sejauh kaitan dengan akibatnya. Padahal, sangat mungkin terjadi suatu tindaakan pada dasarnya tidak baik, tetapi ternyata mendatangkan keuntungan atau manfaat.
·  Etika ultilitarinisme tidak pernah menganggap serius kemauan / motivasi baik seseorang.
· Variabel yang dinilai tidak semuanya bisa dikuantifikasi. Karena itu sulit mengukur dan membandingkan keuntungan dan kerugian hanya berdasarkan variabel yang ada.
·     Kesulitan dalam menentukan prioritas mana yang paling diutamakan.
· Bahwa etika ultilitarinisme membenarkan hak kelompok minoritas tertentu dikorbankan demi kepentingn mayoritas. Yang artinya etika ultilitarinisme membenarkan penindasan dan ketidakadilan demi manfaat yang lebih bagi sekelompok orang.
Tanpa ingin memasuki secara lebih mendalam persoalan ini, ada baiknya kita secara khusus mencari  beberapa jalan keluar yang mungkin berguna bagi bisnis dalam menggunakan etika utilitarianisme. Yang perlu diakui adalah bahwa tidak mungkin kita memuaskan semua pihak secara sama dengan tingkat manfaat yang sama isi dan bobotnya. Hanya saja, yang  pertama-tama harus dipegang adalah bahwa kepentingan dan hak semua orang harus diperhatikan, dihormati, dan diperhitungkan secara sama. Namun, karena kenyataan bahwa kita tidak bisa memuaskan semua pihak secara sama dengan tingkat manfaat yang sama isi dan bobotnya, dalam situasi tertentu kita memang terpaksa harus memilih di antara alternatif yang tidak sempurna itu. Dalam hal ini, etika utilitarianisme telah memberi kita kriteria paling objektif dan rasional untuk memilih diantara berbagai alternatif yang kita hadapi, kendati mungkin bukan paling sempurna.
Karena itu, dalam situasi di mana kita terpaksa mengambil kebijaksanaan dan tindakan berdasarkan etika utilitarianisme, yang mengandung beberapa kesulitan dan kelemahhan di atas, beberapa hal ini kiranya perlu diperhatikan, diantaranya :
·   Dalam banyak hal kita perlu menggunakan perasaan / intuisi moral kita untuk mempertimbangkan secara jujur apakah tindakan yang kita ambil itu, yang memenuhi kriteria etika utilitarianisme diatas memang manusiawi / tidak.
·   Dalam kasus konkret di mana kebijaksanaan / tindakan bisnis tertentu yang dalam jangka panjang tidak hanya menguntungkan perusahaan tetapi juga banyak pihak terkait, termasuk secara moral, tetapi ternyata ada pihak tertentu yang terpaksa dikorbankan / dirugikan secara tak terelakkan, kiranya pendekatan dan komunikasi pribadi akan merupakan sebuah langkah yang punya nilai moral tersendiri.

Sumber :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar